TARAKAN, mediakaltara.com – Peredaran sabu jaringan internasional yang melibatkan seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Philipina berinisial FY (31) dengan barang bukti sabu seberat 2 Kilogram (Kg), berhasil digagalkan tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara dan Bea Cukai Tarakan 4 Desember lalu.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Kaltara, AKBP Deden Andriana mengatakan, awalnya tim gabungan menerima info adanya transaksi narkotika jaringan internasional diperairan Malaysia-Indonesia. Saat dilakukan penelusuran, FY yang juga sudah menjadi target operasi, tiba di Tarakan sekitar pukul 14.00 Wita.

“Kita lakukan pengintaian lalu mengamankan FY di Jalan Perumnas, Gang Bapindo, RT 66, Kelurahan Karang Anyar, Tarakan Barat. Dirumah itu kami temukan tas, HP, uang tunai dan sebuah kunci yang bertulis angka 4. Kami menduga kunci itu sebagai tempat penyimpanan sabu,” terangnya.

Deden mengakui, setelah mendapat petunjuk sebuah kunci itu, pihaknya melakukan penelusuran hingga pukul 23.00 Wita, pihaknya berhasil menemukan rumah di Gang Jati RT 27, Kelurahan Karang Anyar, Tarakan Barat sesuai dengan kunci tersebut.

Tampak Barang bukti hasil pengungkapan peredaran sabu jaringan internasional.

“Setelah rumah kontrakan itu dibuka, kami menemukan tas berisi dua bungkus plastik teh berwarna hijau. Didalamnya berisi sabu. Jadi ada 3 bungkus teh. Tapi yang satu lagi isinya sudah kosong. Diduga itu sudah diedarkan,” ujarnya.

Ketika dilakukan pengembangan, diungkapkan Deden selama di Tarakan, FY difasilitasi oleh pria berinisial FE (31). Sehingga FE juga turut diamankan. Selain itu diketahui juga kedatangan FY ke Indonesia ini atas suruhan dari seorang warga binaan di Lapas Tarakan berinisial HN yang juga merupakan WNA Filipina.

“FY berada di Tarakan sudah tiga bulan. Ia masuk ke Indonesia diduga melalui jalur ilegal, karena tidak memilik pasport. Selama di Tarakan FE lah membiayai hidup FY. Keduanya mengaku baru dua kali edarkan sabu. Jadi FE ini juga merupakan residivis kasus narkotika tahun 2015 di Lapas Tarakan,” ungkap Deden.

Deden menegaskan, Kedua pelaku akan di jerat pasal 114 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 subsider pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 UU Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.”Ancaman hukumannya minimal 5 tahun, maksimal hukuman mati,” akunya.

Kepala Kantor Bea Cukai Tarakan, Minhajuddin Napsah menambahkan, ini bukti nyata penyelundupan sabu masih ada, dan ini juga pertanda Tarakan masih menjadi pintu masuk barang berbahaya itu.

“Sepanjang tahun 2020 ini kami sudah berhasil menggagalkan sabu sebanyak 15 kg bersama BNNP Kaltara. Kita akan terus bersinergi untuk mengagalkan barang ilegal yang akan masuk,” tutup dia. (rt20)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here