TARAKAN, mediakaltara.com – Kasus raibnya uang nasabah senilai Rp 311 Juta rupiah dari tabungan BRI milik Ibu Nurbaya, Sabtu (12/12/2020) tahun lalu. Sampai saat ini tidak ada kejelasan dari pihak Bank, Telkomsel dan Grapari yang diduga lalai, sehingga uang nasabah raib tanpa sepengetahuan.

Namun agar kasus ini dapat ditindak lanjuti secara serius, korban melalui tim penasehat hukumnya yakni, Edy Siswanto dan Derry Ramadhan melayangkan gugatan terhadap ketiga pihak terkait, di Pengadilan Negeri Tarakan. Kemudian Majelis Hakim telah menggelar sidang perdata gugatan ini, Rabu (17/2/2021) siang tadi.

“Agenda sidang pertama tadi yaitu pemeriksaan. Tapi dari tiga tergugat hanya pihak BRI saja yang hadir di persidangan. Sementara tergugat satu dan dua tidak hadir, yakni pihak Telkomsel dan Grapari,” terang Edi Siswanto selaku Penasehat Hukum Ibu Nurbaya.

Ditanya alasan tidak hadirnya dua tergugat itu, Edy mengaku tidak mengetahui, lantaran tidak ada konfirmasi dan alasan sama sekali dari tergugat.

“Harapan kami ada itikad baik dari tergugat untuk hadir di persidangan. Kita ingin meminta kejelasan apakah perkara ini mau dilanjutkan, atau ingin melakukan mediasi bagaimana menyelesaikan kerugian klien kami ini. Klien kami sebenanrya tetap membuka diri untuk mediasi. Sampai saat ini tidak ada upaya mediasi dari tergugat,” ucap dia.

Lanjutnya, untuk agenda sidang selanjutnya pada 10 Maret mendatang, yaitu pemanggilan tergugat kedua.”Jika di panggilan kedua tidak hadir, maka ada kosekuensi hukumnya. Kita menggugat karena ada dugaan perbuatan melawan hukum yang dilakukan para tergugat. Dari bukti-bukti yang diajukan dalam perkara ini, kami akan masukkan bukti tambahan jika di butuhkan, termasuk juga saksi,” ungkap Penasehat Hukum Ibu Nurbaya ini.

Terpisah, Humas Pengadilan Negeri Tarakan Melcky Johny Ottoh menuturkan, di sidang perdana ini, pihak BRI tak bisa menunjukkan surat tugas. Sementara  pihak operator seluler belum ada menunjuk kuasa hukum.

“Persidangan awal ditunda, sebab pihak Grapari pusat belum mengirimkan wakilnya untuk menghadiri persidangan. Sehingga Majelis Hakim perintahkan untuk BRI membawa surat tugas maupun penunjukan dari pusat dan menunggu Penasehat Hukum Grapari untuk menghadiri persidangan,” pungkasnya.

Untuk Diketahui, kronologis kejadian terjadi pada hari Sabtu 12 Desember 2020. Dimana saat itu Nurbaya ingin melakukan transaksi menggunakan handphone, setelah membuka hp tidak ada jaringan dan tidak dapat membuka aplikasi. Lantaran tidak dapat menggunakan handpone untuk transaksi, Nurbaya memberikan kartu ATM kepada suaminya untuk melakukan transaksi melalui mesin ATM. Namun Suami Nurbaya terkejut saat melihat saldo ATM sudah berkurang menjadi Rp 79 juta. Selanjutnya Nurbaya menghubungi call center Bank BRI untuk meminta blokir ATM dan Internet Banking, kemudian melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib.(rt20)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here