TARAKAN, mediakaltara.com – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan memberikan sanksi kepada tiga oknum pegawainya Pasca menyebarkan informasi tidak benar atas adanya pasien terdampak virus corona, Senin (27/1/2020) lalu.

Diketahui sebelumnya, sempat beredar foto petugas medis, dan juga foto seorang  pasien di indikasi terjangkit virus corona di Media sosial (Medsos) whatsapp. Foto-foto yang beredar itu sempat meresahkan masyarakat Kaltara.

Saat ditemui pewarta, Direktur Utama RSUD Tarakan, Hasbi Hasyim menjelaskan, foto yang tersebar itu awalnya hanya sekedar mengingatkan warga agar berhati-hati, Namun ada salah seorang oknum lainnya menyebar foto tersebut ke media sosial.

“Sudah kami mintai klarifikasi dari ketiga oknum perawat itu. Kita juga sudah konsultasikan kepada semua komite di RSUD Tarakan. Nantinya akan memberikan sanksi kepada 3 oknum tersebut,” jelasnya, Selasa (28/1/2020).

“Sejak kemarin saya sudah memberikan teguran keras kepada kepala staf. Pasti, karena dia sudah melanggar. Kalau (sanksi) berat akan kami lakukan pemecatan,” tambahnya.

Hasibi mengaku, secara resmi juga meminta maaf kepada keluarga pasien yang dianggap mencemarkan nama baik. Dalam aturan, hal tersebut tidak perlu dipublikasikan di media sosial. Karena pekerja di RSUD dominan kaum milenial, mereka menganggap bangga akan pemberitaannya yang sudah disebar oleh orang lain di media sosial.

“Ini memang yang menjadi masalah. Karena hal-hal ini berpotensi meresahkan masyarakat. Ini sisi negatifnya media sosial. Secara terbuka saya mohon maaf kepada pasien, Keluarga pasien dan masyarakat Kaltara khususnya,” ujarnya.

Sementara itu terkait adanya isu pasien diduga terjangkit virus corona, Hasbi mengatakan, Seorang pasien laki-laki itu masuk ke Bandara Soekarno Hatta pada 20 Januari lalu. Keluhan serta deteksi thermal scanner juga tidak menyebutkan apa-apa saat melintas di bandara.

“sesampainya laki-laki itu di Tarakan pada 21 Januari lalu. Suhu badannya masih 37 derajat celcius. Soalnya dia sekolah kedokteran, jadi bawa sekaligus cek terus pakai termometer. Selang tiga hari kemudian, dia mengeluhkan hidungnya pilek. Saat 25 Januari lalu, dia kembali mengeluhkan sakit demam, dan batuk. Setelah itu, pada 27 Januari lalu diantara orang tuanya ke RSUD Tarakan. Pas dicek suhunya 36,8 derajat. Artinya tidak ada tanda demam. Kemudian kita periksa tangkap parunya 98 persen. Artinya tanda-tanda terjangkit virus corona tidak ada. kita tidak temukan tanda awal, dia hanya infeksi saluran nafas atas,” pungkasnya.

Agar lebih pasti, Hasbi mengungkapkan, langsung melakukan rontgen dada serta laboratorium. Dari hasil tersebut, pihaknya juga tidak menemukan kriteria infeksi virus corona.

“Karena di Kemenkes tidak memakai suspect melainkan pengawasan 14 hari sejak tiba di Indonesia. kami minta yang bersangkutan melakukan aktivitas di dalam rumah secara terbatas. Sampai hari ini yang bisa menentukan virus tersebut dari Kemenkes. Pasien tersebut bukan dilakukan perawatan, hanya saja dilakukan observasi,” bebernya. (rt20)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here