TARAKAN, mediakaltara.com – Bentuk Peningkatan kemampuan dan pemahaman tanggap bencana, kelompok kerja (Pokja), dan sukarelawan Desa Tangguh Bencana (Destana) kelurahan Sebengkok, menggelar Simulasi penyelamatan gempa terhadap siswa SDN 020 Sebengkok, Sabtu (2/11/2019), pukul 08.00 Wita.
Ketika bel peringatan gempa pertama di bunyikan, para siswa di arahkan keluar dari kelas, kemudian berbaris sambil menutup kepalanya dengan tas. Saat di bunyikan bel peringatan selanjutnya, siswa dan guru di arahkan keluar dari sekolah dengan tertib. Selanjutnya di kumpulkan oleh tim Destana di Pos pengungsian untuk pendataan. Mengetahui ada empat orang siswa yang tertinggal di gedung, dengan cepat beberapa orang Destana bersama PMI melakukan penyisiran dan evakuasi terhadap empat orang siswa yang diketahui mengalami luka-luka. Dalam Simulasi ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan berperan besar sebagai mentor para Pokja Destana kelurahan Sebengkok.
Menanggapi adanya simulasi ini, Wali Kelas IV SDN 020 sebengkok, Fineben Siahaan mengaku, sangat bermanfaat sekali. Karena selama mengajar di sekolah ini, belum pernah dilakukan simulasi bencana rerhadap guru maupun para murid.

“Tapi sedikit bingung saat gladi bersih tadi, karena siswa di arahkan keluar sekolah, kemudian di kumpulkan. Ternyata di kumpul seperti itu untuk mendata siswa agar mengetahui berapa oranh yanh tertinggal d gedung sekolah,” ungkapnya.
Fineben mengatakan, adanya simulasi ini, membantu mengedukasi siswa terhadap penanganan bencana gempa bumi sejak usia dini,“Selama ini kan tidak mengetahui. Kalau sepengetahuan kita saat gempa lari selamatkan diri masing-masing. Tapi setelah simulasi ini saya baru mengerti apa yang harus dilakukan,” bebernya.
Sementara itu, Lurah Sebengkok, Syahril Alamsyah menuturkan, dengan adanya simulasi ini juga diharap meningkatkan kesadaran masyarakat di Kelurahan Sebengkok, agar turut terlibat dalam penanganan bencana.
“Bukan cuma gempa, longsor kemarin sempat diterapkan sama Destana. Membuat dapur umum sama penyaluran bantuan bencana,” pungkasnya.

Dilain sisi, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tarakan, Willem menjelaskan, peran guru yang juga terlibat dalam simulasi tersebut sangat penting. Pasalnya, tindakan guru akan diikuti oleh murid.
“Kedepannya, guru bisa menerapkan simulasi ini. gurunya tenang, murid juga ikut tenang. Kemudian Setelah simulasi ini kami akan menggelar evaluasi. Gunanya untuk mencari tahu kelemahan serta keunggulan yang harus diperbaiki dalam simulasi tersebut. Disamping itu, Kedepan kami akan mendorong semua kelurahan di Tarakan membentuk pokja Destana. karena saat ini baru dua keluarahan saja yang memiliki pokja Destana,” jelasnya.
Willem menambahkan, Kegiatan ini masuk dalam kategori mitigasi bencana. Dalam arti, pemahaman dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Tidak ada yang mengetahui kapan terjadi bencana. Tapi paling tidak kita dapat mengurangi dampaknya,” tutupnya. (rt20)

Leave a Reply