TARAKAN, mediakaltara.com –  Kenaikan cukai rokok di tahun 2020 berdasarkan peraturan Menteri Keuangan, berbeda penerapannya untuk masing-masing produk rokok.

Kepala Kantor Bea Cukai Tarakan, Minhajuddin Napsah mengatakan, ada matriks tersendiri, Namun di Kaltara tidak ada pabrik rokok, sehingga tidak membuat rekanan yang jadi bagian kerja untuk menghitung persentasi cukai.

“Praktis penerimaan kas negara dari cukai rokok di Kaltara tidak ada. Meski hasil tembakau tidak ada produsen, di Kaltara tinggal jalur distribusi user, atau konsumen yang ada di daerah. Cukai dikenakan terhadap tahun yang bersangkutan, sedangkan produk rokok yang ada di pasaran saat ini kemungkinan masih produk di tahun 2019,” terangnya.

Menurut Minhajuddin, rokok di produksi tahun ini seharusnya sudah aktif mengacu ke tarif cukai yang terbaru. Namun dari pemantauan di lapangan belum ditemukan rokok stok tahun 2020. produsen sudah terlanjur melepas produk dan ada kompensasi untuk produk dan biaya yang dikeluarkan. Biasanya untuk perubahan tarif cukai, saat ini sedang berjalan di Pulau Jawa sebagai wilayah yang memiliki produsen rokok terbanyak.

“Memang tidak ada pemesanan di akhir tahun. Mekanismenya, mereka beli dulu di Desember, baru dilengkapi di Januari. Tapi, mereka akan dapat cukai di tahun 2019. Sedangkan untuk rokok yang belum dilengkapi pita cukai, terutama rokok pabrikan yang dijual murah akan kami awasi melalui operasi pasar bersama tim pengawasan. Setiap bulan tim akan turun untuk mencari dan memberikan sosialisasi,” tuntasnya. (rt20)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here