Ade Prasetia Cahyadi

Mahasiswa PascaSarjana Sosiologi UGM

COVID-19 seakan menjadi mimpi buruk bagi masyarakat di seluruh dunia. Virus ini menimbulkan gelombang kepanikan, kecemasan , dan ketidakberdayaan dunia. Indonesia menjadi satu dari sekian banyak negara yang ikut merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Berawal, ketika presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama pasien Covid-19 Sekitar awal bulan maret 2020 lalu. Petambahan jumlah pasien positif terus bertambah secara signifikan dari hari ke hari. Bahkan, sampai dengan tulisan ini dibuat, total kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah sebanyak 18.496 orang dan korban meninggal mencapai 1.221 orang.

Berbagai upaya coba dilakukan pemerintah Indonesia agar pandemi ini segera berakhir. Salah satunya adalah mengeluarkan larangan mudik, khususnya wilayah-wilayah seperti wilayah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan zona merah penyebaran Covid-19. Perintah larangan mudik itu kemudian diwujudkan oleh Kementerian Perhubungan dalam bentuk Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020 tentang pengendalian transportasi selama musim mudik Idul Fitri 1441 H. Kebijakan dimaksudkan demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Keputusan yang membuat seluruh masyarakat sedih, tak terkecuali mahasiswa yang berada diperantauan. Mengingat, mudik menjadi momen yang di tunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Indonesia. Setiap tahun saat musim mudik, ratusan ribu bahkan jutaan orang berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya untuk berkumpul dengan keluarga besar dan meramaikan hari raya.
Di tengah pandemi Covid-19, sebagian besar mahasiswa mengalami dilema di antara dua keputusan, yakni memilih mudik atau menetap di perantauan. Jika memutuskan mudik, maka mereka harus siap mengikuti prosedur karantina selama 14 hari. Belum lagi, rasa khawatir menjadi pembawa virus yang dapat membahayakan keluarga jika nekat mudik . Ketika mudik, seseorang bisa saja terpapar ratusan hingga ribuan orang selama perjalanan pulang. Kita tidak bisa mengenali siapa saja yang positif Covid-19. Tak hanya itu, seseorang bisa tertular Covid-19 jika menyentuh benda yang terkontaminasi virus, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan.

Virus bisa saja menempel pada fasilitas umum yang kita sentuh, seperti pintu kendaraan atau benda lain yang ditemui saat melakukan perjalanan mudik . Hal lain yang dikhawatirkan ialah menjadi orang yang tanpa gejala (OTG) atau biasa disebut silent carriers. Orang Tanpa Gejala merupakan seseorang yang tidak memiliki gejala dan memiliki risiko tertular dari orang terkonfirmasi Covid-19.

Di lansir dari (Tirto, 2020) sepertiga kasus Covid-19 disebabkan oleh ‘silent carriers’ atau orang tanpa gejala.
Di sisi lain, jika memutuskan untuk menetap, artinya mahasiswa harus bisa melakukan survive di tanah perantauan dengan segala konsekuensi, termasuk kemungkinan terinfeksi Covid-19. Di tengah pandemi Covid-19, mahasiswa terpaksa keluar kos demi mencari makan, membeli kebutuhan hidup, dan aktivitas lainnya. Kita harus berjalan jauh demi mencari warung yang masih buka, karena saat pandemi banyak warung yang tutup. Pilihan lain adalah menggunakan jasa aplikasi online seperti Go-food dan Grabfood. Hal itu tentu tidak bisa terus dilakukan karena akan merogoh kocek lebih dalam. Terlebih , janji bantuan dari pemerintah daerah pun tidak kunjung datang. Mereka hanya meminta untuk mengumpulkan biodata tanpa pernah memberi kepastian, kapan bantuan itu akan direalisasikan. Padahal, bantuan sangat dibutuhkan mahasiswa yang memilih bertahan di perantauan.

Tak hanya itu, kadangkala kerinduan kepada orang tua seringkali menghampiri, seakan menambah kesedihan bagi para mahasiswa di perantauan. Demi mengobati rasa rindu kepada orang tua di kampung halaman, hal yang biasa dilakukan adalah melakukan percakapan lewat aplikasi seperti whatsapp, saling bertukar foto, atau melakukan aktivitas lain seperti video call. Hal ini dirasa cukup untuk mengobati rasa rindu.

Mengingat, tidak semua rindu bisa berujung temu, maka yang bisa dilakukan sekarang adalah bersabar sembari berdoa semoga pandemi Covid-19 segera berakhir dan kita semua bisa beraktivitas seperti biasanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here