TANJUNG SELOR, mediakaltara.com – Berdasarkan informasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), pada periode Februari 2020 ini laju inflasi sangat rendah. Data menyebutkan, terjadi inflasi 0,00 persen di Kaltara (gabungan Kota Tarakan dan Tanjung Selor). Tingkat inflasi tahun kalender 0,01 persen, dan tahun ke tahun (YoY) sebesar 0,17 persen.

Menyikapi hal ini, Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie meminta kepada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk bekerja keras, guna menjaga kestabilan inflasi. “Laporan dari BPS, Kota Tarakan mengalami deflasi sebesar 0-25 persen. Sedang Tanjung Selor mengalami inflasi sebesar 1,04 persen,” ujar Irianto merujuk laporan BPS. Inflasi, lanjutnya, dipengaruhi kenaikan indeks harga kelompok kesehatan sebesar 1,33 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau 1,14 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,32 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,29 persen, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,13 persen. Selanjutnya, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,12 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,04 persen, dan kelompok pendidikan sebesar 0,01 persen.

Adapun deflasi dipengaruhi penurunan indeks harga kelompok transportasi sebesar -3,77 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar -0,23 persen dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar -0,05 persen.

Menghadapi terjadinya resiko kenaikan inflasi di Kaltara, pemerintah daerah melalui TIPD, tutur Gubernur, terus melakukan upaya pengendalian. Salah satunya, melakukan operasi pasar murah menjelang HBKN dan memantau harga bekerjasama dengan Satgas Pangan di daerah.

“Kita juga akan melakukan optimalisasi program peningkatan produksi komoditas penyumbang inflasi lewat Gerakan Tanam Serentak dan Kawasan Rumah Pangan Lestari, yang bekerjasama dengan Perum Bulog dan PT Pelni terkait ketersediaan stok menjelang HBKN (Hari Besar Keagamaan dan Nasional),” ujarnya.

Secara umum, tambahnya, program tersebut sudah tertuang dalam roadmap pengendalian inflasi Kaltara 2019-2020, dengan strategi 4K yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif yang pelaksanaannya dilaksanakan oleh dinas teknis.

Sementara itu di sisi lain, perekonomian Provinsi Kaltara pada triwulan II tahun 2020 diperkirakan tumbuh meningkat. Peningkatan tersebut sejalan dengan peningkatan lapangan usaha perdagangan dan kontruksi. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltara mencatat pertumbuhan ekonomi tahun ini meningkat dibanding tahun 2019, dengan range 6,80 persen-7,20 persen (yoy).

Pertumbuhan diperkirakan bersumber dari berbagai lapangan usaha utama di Kaltara. Lapangan usaha konstruksi diperkirakan masih akan tumbuh tinggi. Lapangan usaha ini didorong oleh pembangunan PLTA Sei Kayan Tahap I berkapasitas 900 MW, rencana konstruksi 2 PLBN (Pos Lintas Batas Negara), pembangunan jalan perbatasan Malinau-Krayan, serta pembangunan sejumlah gedung dan sarana perkantoran instansi pemerintahan di Kaltara. “Selain itu, pertumbuhan juga ditopang oleh lapangan usaha industri pengolahan,” Gubernur, Kamis (18/3).

Adapun inflasi di Kaltara triwulan II tahun 2020 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Meningkatnya tekanan inflasi ini diperkirakan bersumber dari kelompok transportasi dan makanan, minuman, dan tembakau. Tingkat inflasi kelompok transportasi diperkirakan meningkat sejalan dengan adanya kenaikan permintaan dari masyarakat memasuki momen HBKN, seperti Ramadhan dan Idul Fitri.(humas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here