TARAKAN, mediakaltara.com – Tempat pengembangan bibit kepiting (Hatchery) milik Koperasi Produsen Nelayan Kaltara (PNK) di Kelurahan Karang Anyar Pantai, di sidak Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Tarakan, Senin (14/10/2019).

Kepala BKIPM Tarakan, Umar mengungkapkan, pihaknya mendukung pembuatan hatchery yang ada di Kaltara. Terlebih pembenihan tersebut untuk menjaga kelestarian kepiting. Namun jika mulai beroperasi, pihak PNK wajib melaporkan kegiatannya ke BKIPM.

“Kita hanya memastikan bahwa hasil pembenihan betul-betul dibesarkan dikawasan tambak dan dibawah pengawasan kami,” teranganya.

Lanjut Umar, BKIPM Tarakan juga meminta laporan jumlah kepiting yang ditebarkan ke tambak serta peluang hidup kepiting tersebut. Agar saat mengirim komoditi kepiting betina, sesuai dengan jumlah yang sudah ditebar.

“Ini pun belum bisa dipastikan, berapa yang sudah dilepas kepiting betinanya. Sehingga butuh regulasi lagi, sial pengawasannya di lapangan,” jelasnya.

Menurutnya, apabila pembenihan ini tidak mempunyai regulasi, dapat menjadi alasan perusahaan pembenihan melakukan penyelewengan jumlah kepiting betina yang sudah disebar maupun untuk dijual.

“Meski masih dalam tahap uji coba, kami menyarankan untuk terus menguasai teknik hatchery. Jika sudah proses hatchery berjalan, pihak PNK bisa melaporkan ke Dirjen Perikanan Budidaya. Kalau Dirjen mengeluarkan peraturan terkait itu, pasti akan kami tindak lanjuti. Sementara soal izin pembenihan kepiting di Indonesia belum ada. Meski Koperasi PNK sudah mengklaim bekerjasama dengan pembenihan kepiting di Takalar, Sulawesi Selatan dan Jepara, Jawa Tengah, tidak bisa menjadi patokan kalau budidaya tersebut berhasil. Jadi kita imbau pengumpul kepiting untuk saling terbuka. Dalam arti, kenyataannya kepiting yang dikirim ke Tawau, Malaysia bukan saja dari Kaltara,” bebernya.

Dilain sisi, Sekretaris Koperasi PNK, Robin Aritonang mengaku, sudah berhasil melakukan pembenihan mulai dari penetasan telur kepiting. Akan tetapi, pembekalan tempat pakan dan pembesaran larva masih kurang.

“Nanti budidaya juga disini. Sebagian juga akan kami bagikan kepada anggota (Koperasi PNK). Mereka punya tambak juga,” ungkapnya.

Robin menuturkan, hingga kini belum bisa menjanjikan berapa jumlah kepiting betina yang akan ditetaskan. Akan tetapi, pihaknya akan mengutamakan target pembenihan selanjutnya.

“Tentu kami akan evaluasi lagi teknologi ini, menyadur dari Jepara, kita tidak bisa. Disamping persoalan biaya, kondisi geografisnya ternyata tidak sama,” tutupnya. (m86/rt20)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here