TARAKAN, mediakaltara.com – proses penyidikan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil narkotika ditangani Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara, masih terus bergulir. Penyidikan itu dilakukan terhadap tersangka Nasruddin terpidana kasus kepemilikan 1 kg sabu yang di ungkap BNNP Tahun 2019 lalu.

Saat dikonfirmasi, Brigjen Pol Herry Dahana melalui Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Kaltara, Deden Andriana mengungkapkan, pihaknya masih memiliki pekerjaan lainnya, sehingga proses penyidikan agak terhambat, namun perlahan terus melangkahkan proses sampai tahap selanjutnya.

“Dalam perkara TPPU ini, Nasruddin memiliki buku rekening yang disita penyidik. Dalam rekening ini, ditemukan uang Rp600 juta dalam yang diduga merupakan hasil bisnis sabu.  Kita akan bekerja sama dengan pihak bank melalui Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK),” ungkapnya, belum lama ini.

Dia menjelaskan, PPATK ini yang mengkoordinasikan pelaksanaan upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU di Indonesia. Secara internasional PPATK merupakan suatu Financial Intelligence Unit (FIU), yang memiliki tugas dan kewenangan untuk menerima laporan transaksi keuangan, melakukan analisis atas laporan transaksi keuangan, dan meneruskan hasil analisis kepada lembaga penegak hukum.“Kita meminta bantuan BNN Pusat, karena yang berhak untuk memberikan izin kepada PPATK (menyusuri alur rekening Nasruddin) adalah BNN Pusat,” jelasnya.

Deden mengatakan, perkara tindak pidana narkotika yang menjadikan Nasruddin sebagai narapidana, ada keterlibatan satu orang narapidana di Lapas Makassar. Namun, setelah ditelusuri, dalam kasus TPPU tidak ada keterlibatan keduanya.

“Tapi, kalau dari tindak pidana asalnya ada hubungannya. Cuma di TPPU ini tidak ada. Dari Nasruddin kami mengamankan satu unit motor. Namun masih menelusuri keberadaan satu motor lagi yang belum ditemukan sampai saat ini.

Selain Perkara Nasruddin, Deden mengaku, BNN Pusat juga membantu menyelidiki kasus TPPU tersangka Hendro, merupakan pengendali sabu 2,4 kg yang diambil dari wilayah perairan Malaysia. Hendro diamankan di Bogor, setelah lima orang kurirnya ditangkap pertengahan Oktober lalu.

“Kalau perkara yang ini mungkin sebentar lagi akan diserahkan ke Kejaksaan untuk tahap dua, itu yang saya dengar dari salah satu penyidik di BNNP Pusat,” tuntasnya. (mk86/rt20)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini