Arimba saat mengecek escape line (kursi lari, Red) di sumur area Pamusian PAM-971, Senin (19/10). Escape line digunakan sebagai tempat untuk meluncur jika terjadi insiden di menara rig.

MELIHAT LEBIH JAUH KINERJA DRILLING PERTAMINA, DARI KISAH ARIMBA

MENJADI pegawai Pertamina rasanya seperti terpilih dalam skuad Timnas Sepak Bola Indonesia yang berlaga di kejuaraan international. Sejak saat itu, pria kelahiran Tarakan 7 Juli 1982 menyadari dirinya menjadi bagian ujung tombak energi negeri. Meski, setiap detik pekerjaannya harus berjibaku bertaruh nyawa karena resiko kerja yang tinggi.

Arimba Purba Sakti nama lengkapnya menetapkan masa depannya bergabung dalam keluarga besar PT. Pertamina sejak 2003. Meski kala itu, sarjana teknik sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mendapatkan berbagai tawaran di perusahaan kontruksi dengan gaji menggiurkan. Namun ketertarikannya dengan tantangan membuat niatnya begitu besar bergabung di dunia pertambangan dengan status karyawan kontrak. Bahkan, ayah dari dua anak ini mengetahui menekuni pekerjaan di perminyakan diselimuti sebuah kehati-hatian setiap detiknya terutama bekerja diposisi kru drilling (kegiatan pembuatan lubang sumur dengan alat bor untuk mencari, mengeluarkan atau memasukkan fluida formasi, Red).

Siang itu cuaca begitu cerah di area Sembakung, Kabupaten Nunukan. Panasnya menggoda jiwa untuk berlindung dari terik matahari dan menyandarkan raga. Tetapi keletihan kru lainnya membuat Arimba turun tangan menggantikan posisi asisten yang memegang liner pompa (alat untuk memompa minyak, Red) di rig MBP M7, lokasi PAD 10. Kurang dari lima detik, Ia pun terkejut dari lamunannya yang hampir membuat jari telunjuk kirinya putus.

“Kejadian itu waktu saya masih kru drilling 2004 di area Sembakung. Kurang dari lima detik setelah saya gantikan, ujung jari telunjuk tangan kiri saya nyaris putus. Langsung saya balut perban dan istirahat. Begitu sampai di mes langsung saya berobat di klinik. Hanya hitungan bulan jari saya pulih kembali,” aku Arimba Purba Sakti selaku Rig II Supervisor/Company Man PT. Pertamina EP Asset V Tarakan Field, Senin (19/10).

Tidak hanya dirinya saja, Arimba pernah melihat langsung rekan kerjanya juga mengalami accident, namun dapat di tangani dengan cepat.

Ia mengakui bekerja di pertambangan minyak selalu dibayang-bayangi dengan resiko kecelakaan kerja tinggi. Oleh karena itu, mindset (pola pikir) bekerja di bagian drilling bukan hanya semata-mata sebagai mata pencaharian keluarga saja. “Pekerjaan seperti ini, aspek safety (keselamatan) harus dipegang teguh. Jika ada aspek keamanan terlewati, bukan hanya peralatan negara ini saja yang rusak, tetapi nyawa sendiri terancam,” tegasnya.

Dari rentetan pengabdiannya, Arimba mendapat kesempatan mengikuti tes karyawan tetap di PT. Pertamina EP Asset V Tarakan Field, 2014 silam. Dewi fortuna pun berpihak kepadanya lolos dengan predikat cukup baik. Sekarang, pria berkulit sawo matang ini diberi amanah menjabat sebagai Rig II Supervisor/Company Man PT. Pertamina EP Asset V Tarakan Field.

“Bekerja di rig adalah kerja tim, kita menyatukan kekompakan dari karakteristik orang yang berbeda-beda juga menjadi tantangan. Saya berkarir awalnya sebagai kru sampai memiliki tim sendiri. Untuk menjaga pekerjaan bisa berjalan lancar, hubungan emosional dengan tim terus saya bangun. Pengawasan saat bekerja selalu saya lakukan terhadap masing-masing kru,” bebernya.

Bahkan, Arimba menyampaikan sebelum kegiatan selalu melaksanakan Pre Job Safety Meeting (PJSM) yakni menjelaskan atau mengidentifikasi terlebih dahulu pekerjaan yang dilakukan dan aspek bahayanya. Kemudian, melakukan pembacaan SOP pekerjaan.

“Jadi apa saja urutan aspek safety Pertamina itu, kita selalu sosialisasikan setiap pagi. Kemudian selalu ada HSE (Health, Security, and Environment) koordinator yang mengawasi dan menegur jika ada aspek keselamatan yang terlewati,” katanya saat sedang memimpin Tim Rig 4, melakukan service sumur Pamusian (PAM-971).

PESAN MISTIS DARI SANG COMPANY MAN

Evaluasi pemasangan menara rig oleh Company Man bersama asisten sebelum dioperasikan.

Tak berhenti dari kisah heroik itu saja, selama 17 tahun bekerja Arimba pernah mengalami hal aneh yang tak bisa dilupakan. Tepatnya 2004, di PAD 10, Sembakung, saat akan melakukan semenisasi cassing 1358. Dirinya bersama kru melakukan safety meeting dengan Company Man bernama Asnawi.

Ketika safety metting, Asnawi memaparkan program kerja yang akan dilakukan tim. Setelah itu, memberikan tangannya ke kru untuk dicium. Sang mentor menyampaikan bahwa tangannya berbau melati. Tetapi, Arimba tidak mencium bau yang dimaksudkan.

Selang setengah jam kemudian, Arimba bertugas menutup tangki shaleshaker (tangki pengaduk semen) untuk melihat keluarnya campuran. Namun laki-laki yang dikenal baik dan ramah mendatanginya sambil menepuk pundak dan mengatakan “baik-baik kerja”.

Selanjutnya Company Man, Asnawi ikut ke unit sementing. Ketika pemompaan berjalan sekitar 10 menit, terdengar terikan nyaring dari kru sementing. Tak pernah terbesit dari fikirannya bahkan seluruh kru bahwa sang mentor yang menjadi idola banyak orang menghembuskan napas terakhirnya di tempat lokasi bekerja.

“Langsung kita stop kegiatan, kami menuju unit sementing. Saya bersama yang lain melihat almarhum sudah tergeletak di lokasi. Indikasi kami serangan jantung dan segera menggotong almarhum ke muster point (tempat berkumpul, Red). Nadinya sudah tidak ada saat di jalan menuju mes. Saat di cek dokter, Pak Asnawi sudah meninggal dunia,” ucapnya dengan raut wajah duka mengenang idolanya.

Pekerjaan bertaruh nyawa, tentu membuat khawatir keluarga Arimba. Setiap ada waktu istirahat, pria yang menikah tahun 2007 selalu mengabarkan kondisinya di lapangan melalui video call ke istri dan anaknya agar keluarga kecilnya tidak merasa cemas.

“Sempat saya kerja di ketinggian rig 40 meter. Istri saya beberapa kali menghubungi, tapi tidak saya angkat karena dalam kondisi bekerja dan handphone tidak boleh dibawa. Istri khawatir dengan keadaan saya. Usai kerja baru saya hubungi istri dan akhirnya merasa lega setelah mendapat kabar baik-baik saja,” kata Arimba.

“Jadi sekarang saya sering memberitahukan ke tim, apabila ada waktu luang saat istirahat kerja hubungi keluarga di rumah untuk mengabarkan kondisi sedang baik-baik dalam melakukan pekerjaan beresiko. Kita jangan membuat keluarga takut di rumah. Disini juga walaupun hari besar, libur nasional dan ada acara keluarga, kami tetap bekerja demi negara, jika sudah selesai pekerjaan baru bisa kumpul dengan keluarga. Ini semua kami lakukan tulus untuk melayani,” imbuhnya.

Menekuni pekerjaan di pertambangan minyak membutuhkan kehati-hatian. Hanya segelintir orang yang mampu menerima resiko dan tantangan dengan taruhan nyawa. Pekerjaan yang menjadi ujung tombak dari ketahanan energi bangsa merupakan wujud cerminan dari rasa nasionalisme.

Dari pantauan penulis di lapangan, sebelum memasuki area service sumur pewarta harus melakukan serangkaian tahapan safety. Terlebih dahulu diminta bersurat perihal permohonan liputan di area well service sumur. Setelah itu wajib melalui serangkaian tes kesehatan di klinik PT. Pertamina EP Asset V Tarakan Field.

Usai petugas kesehatan memastikan kondisi sehat, selanjutnya dikawal menuju area sumur. Saat di lokasi, akses pengambilan gambar dan bahan liputan juga dibatasi. Tujuannya demi aspek keselamatan bersama. (RT20/MK*1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here