TARAKAN, mediakaltara.com – Kiprah Hamka Pratama sebagai anggota DPRD Tarakan terbilang baru. Alumni Universitas Borneo Tarakan ini sebelumnya lebih dikenal sebagai pengusaha di bidang perikanan. Dibalik kesuksesan yang diraih, Hamka Pratama ternyata pernah merasakan kerasnya mencari nafkah sebagai penjual ikan di pasar.

Tahun 2000 lalu, Hamka Pratama berjualan ikan segar milik temannya di pasar Simpang Tiga. Perlahan Hamka mulai tertarik untuk menjadi seorang pengusaha yang bergelut di bidang perikanan.

“Tahun 2002 itu saya menikah, dan disitulah saya mencoba untuk membuka usaha saya sendiri. Saya tampung ikan yang diperoleh nelayan hasil mereka melaut,” kata Hamka Pratama.

HAMKA pratama bersama sang istri usai acara pelantikan anggota DPRD Tarakan periode 2019-2024

Setelah memutuskan untuk memulai usahanya sendiri, Hamka Pratama akhirnya dapat mengecap hasil kesuksesan dari bisnis perikanan yang dirintisnya. Ia pun menjadi pengepul ikan yang cukup familiar di wilayah kampung nelayan, Kelurahan Karang Anyar Pantai.

Lantaran kerap bertemu dengan nelayan, Hamka sering mendengar keluh kesah mereka mengenai infrastruktur jalan yang tak kunjung ada perbaikan dari pemerintah. Ditambah lagi persoalana sulitnya memperoleh BBM jenis solar bersubsidi di APMS, yang jatahnya tidak sesuai dengan surat rekomendasi.

Beberapa permasalahan yang kerap muncul itu akhirnya membuat para nelayan mendorong Hamka Pratama untuk ikut dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014. “Awal saya maju memang dorongan dari masyarakat sendiri,” ujar Hamka.

Merasa belum memiliki pengalaman yang cukup, Hamka memutuskan untuk memperbanyak kegiatan sosial terlebih dahulu melalui organisasi Karang Taruna. Pada Pileg 2019, Hamka menantapkan diri untuk maju sebagai Caleg lewat Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Kalau di PPP sudah 3 tahun, tapi baru kali ini saya mencalonkan diri. Alhamdulillah dapat amanah,” terang Hamka.

Setelah duduk sebagai anggota DPRD Tarakan, Hamka bertekad untuk menuntaskan komitmennya dalam mengawal aspirasi nelayan. Selama ini nelayan di Karang Anyar Pantai sudah menanti perbaikan jembatan, yang menjadi tumpuan aktivitas sehari-hari.

“Selama kampung nelayan terbentuk, sangat jarang ada bantuan dari pemerintah, bangun jembatan saja itu swadaya masyarakat sendiri. Ada 2 RT yang memang betul betul harus diperhatikan,” pungkas Hamka. (rus)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini